Intensitas hujan ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di wilayah Sumatera Barat telah memicu rangkaian bencana hidrometeorologi, salah satunya longsor besar yang melanda kawasan Kampus III UIN Imam Bonjol Padang di Sungai Bangek. Berdasarkan laporan resmi UIN (Surat Rektor Nomor: B.3503/Un.13/R/B.III/KP.02.3/11/2025), kejadian tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada berbagai fasilitas kampus, termasuk jebolnya turap, tertimbunnya area parkir, kerusakan kendaraan bermotor, serta runtuhan tebing di beberapa titik kampus.
Menindaklanjuti kondisi darurat tersebut, UIN Imam Bonjol secara resmi meminta dukungan teknis kepada Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Andalas untuk melakukan kajian cepat (rapid assessment) terkait potensi gerakan tanah, stabilitas lereng, dan faktor pemicu longsor.
Kegiatan ini dilakukan sebagai respons atas terjadinya longsor di sejumlah titik strategis kampus, antara lain di area Fakultas Syariah, kawasan Masjid UIN, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), serta beberapa lokasi lain yang menunjukkan indikasi ketidakstabilan lereng. Kejadian longsor tersebut dipicu oleh curah hujan tinggi yang menyebabkan peningkatan kadar air tanah dan tekanan air pori, sehingga menurunkan kuat geser tanah dan memicu kegagalan lereng.
Hasil tinjauan lapangan menunjukkan bahwa longsor yang terjadi pada umumnya merupakan longsor permukaan (shallow landslide). Pada lokasi Fakultas Syariah, longsor dipengaruhi oleh kejenuhan tanah akibat infiltrasi air hujan dan sistem drainase yang belum berfungsi optimal. Kondisi tanah yang melunak saat jenuh menyebabkan terjadinya pergerakan tanah menyerupai aliran, dengan bidang gelincir yang tampak jelas pada permukaan lereng. Situasi ini mengindikasikan kombinasi faktor kemiringan lereng, karakteristik tanah, serta pengelolaan air permukaan yang belum memadai.
Di kawasan Masjid UIN, longsor terjadi dengan pola runtuhan dari bagian atas ke bawah mengikuti kontur lereng. Kegagalan sistem drainase menjadi faktor dominan yang menyebabkan air tertahan di dalam tubuh lereng dan meningkatkan tekanan air pori secara signifikan. Kondisi tanah yang sangat jenuh mengakibatkan penurunan kohesi dan stabilitas lereng, sehingga tanah tidak lagi mampu menahan berat sendiri maupun beban di atasnya. Akibatnya, lereng mengalami runtuhan progresif yang berpotensi membahayakan fasilitas di sekitarnya.
Sementara itu, pada area Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), kerusakan yang terjadi tidak hanya berupa longsoran tanah, tetapi juga kegagalan total pada konstruksi penahan tanah. Tekanan lateral tanah yang meningkat akibat kejenuhan dan akumulasi air tidak dapat dilepaskan secara efektif karena sistem drainase yang tidak memadai. Hal ini menyebabkan struktur penahan tanah mengalami retak, pergeseran, hingga runtuh secara menyeluruh. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kapasitas struktur eksisting tidak lagi mampu menahan beban tanah dan air yang bekerja, sehingga diperlukan evaluasi dan perancangan ulang sistem penahan lereng.
Selain lokasi-lokasi utama tersebut, hasil tinjauan juga mengidentifikasi adanya potensi longsor lanjutan di beberapa titik lain dalam kawasan kampus. Peningkatan kandungan air di dalam tanah berpotensi menambah berat massa tanah dan tekanan air pori, yang secara langsung menurunkan kekuatan geser tanah. Apabila kondisi ini tidak ditangani dengan baik, terutama pada musim hujan, maka risiko longsor susulan akan tetap tinggi.
Sebagai bagian dari kegiatan ini, dilakukan pula pengujian laboratorium terhadap sampel tanah dari dua lokasi, yaitu Tanah Puncak dan Tanah Masjid. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Tanah Puncak tergolong tanah lanau plastisitas rendah (ML) yang relatif stabil pada kondisi kering, namun sangat sensitif terhadap peningkatan kadar air. Sementara itu, Tanah Masjid diklasifikasikan sebagai tanah lempung lanau plastisitas rendah (CL–ML) dengan kadar air sangat tinggi dan kohesi rendah, sehingga memiliki tingkat kerentanan longsor yang lebih besar. Temuan ini menegaskan bahwa pengendalian air dan peningkatan kekuatan tanah menjadi aspek kunci dalam upaya stabilisasi lereng di kawasan UIN.
Berdasarkan hasil tinjauan lapangan dan analisis awal, Pusat Studi Bencana Universitas Andalas merekomendasikan perlunya penanganan teknis yang komprehensif, meliputi perbaikan dan peningkatan sistem drainase permukaan maupun bawah permukaan, pembentukan ulang geometri lereng dengan kemiringan yang lebih aman, serta perkuatan tanah melalui metode stabilisasi, seperti soil cement dan penggunaan material geosintetik. Kegiatan tinjauan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penyusunan rencana penanganan dan mitigasi longsor yang lebih terintegrasi, sehingga risiko kejadian serupa di lingkungan Kampus UIN Imam Bonjol Padang dapat diminimalkan di masa mendatang. Dokumentasi kegiatan dapat dilihat pada Gambar berikut.



